Feeds:
Posts
Comments

Saat ini bangsaku Indonesia yang tercinta belum juga keluar dari krisis yang berkepanjangan. Semenjak terkena krisis moneter global yang terjadi pada tahun 1997, bangsa ini bukannya bangkit dari keterpurukan, tetapi terus mengalami masalah secara silih berganti seakan-akan tidak pernah habis. Negeri ini sudah mengalami empat kali pergantian pemimpin atau presiden, namun kondisi belum juga berubah. Apa yang salah dengan negeriku ini? Setahu saya, Indonesia adalah negara yang kaya, kaya akan sumber daya alam maupun manusia serta iklim dan letak geografis bangsa ini yang sebenarnya sangat mendukung. Tetapi mengapa kondisi Indonesia tidak kunjung membaik, bahkan sebaliknya?

“Katanya, kau siap setia. Katanya kau mau berkorban. Dan katanya aku calon pemimpin. Tetaplah disini, karena aku terbaik untukmu.” Begitulah bunyi sebagian lirik dari lagunya Kadri Jimmo Soundscape yang berjudul ‘Indonesia Memang Hebat’. Lagu inilah yang menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis bab ini. Tema dari lagu tersebut adalah menggambarkan keprihatinan akan tidak adanya calon pemimpin yang mumpuni serta layak untuk memimpin Indonesia. Bangsa ini kaya akan segalanya, tetapi sayang seribu sayang, kondisinya semakin tidak karuan karena ketidakmampuan serta ketidakberdayaan pemimpinnya untuk mengelola negeri ini.

Bicara soal pemimpin yang ideal untuk negeri ini, ada secercah harapan dengan hadirnya pak Joko Widodo atau biasa dipanggil Jokowi dan pak Basuki Cahaya Purnama atau biasa disapa Ahok yang menjabat sebagai gubernur dan wakil gubernur provinsi DKI Jakarta. Mereka benar-benar pemimpin yang peduli pada masyarakat karena ini bisa dilihat dari kinerjanya yang kelihatan yaitu bagaimana Jokowi turun langsung ke lingkungan masyarakat untuk melihat kondisi lapangan yang sebenarnya dengan tujuan untuk mencari solusi yang tepat dan sesuai untuk mengatasi dan Ahok dengan keahliannya dalam administrasi keuangan dan pemerintahan yang tegas menolak segala bentuk penyimpangan penggunaan anggaran belanja pemerintah daerah maupun terhadap pelanggaran aturan yang dilakukan oleh masyarakat ibu kota. Terutama untuk Jokowi, beliau memang dikenal lama sebelumnya yaitu ketika menjabat sebagai walikota Surakarta di mana beliau berhasil menata Solo sehingga masyarakat di sana dapat hidup dengan teratur. Contoh nyata dari kinerjanya Jokowi adalah ketika beliau mengatur pedagang kaki lima di sana untuk direlokasi dan berdagang pada tempat yang layak dan semestinya. Ditambah pula Jokowi dan Ahok bersih dan jauh dari perbuatan suap serta tindak pidana korupsi. Tidak heran jika banyak rakyat yang simpati dengan Jokowi sehingga mereka menganggap beliau layak untuk dipilih sebagai presiden berikutnya pada Pemilihan Umum tahun 2014 ini. Rakyat juga melihat Jokowi sebagai sosok pemimpin yang jujur, apa adanya, tegas dan dekat di hati banyak masyarakat serta sebagai figur satu-satunya yang dapat diandalkan untuk mengangkat bangsa ini dari keterpurukan.

Kembali ke topik semula, kalian pastinya punya kriteria masing-masing untuk menilai seperti apakah presiden atau pemimpin yang hebat itu. Menurut saya, pemimpin atau presiden yang hebat tidak cukup hanya mengandalkan kharismanya atau ahli bahkan cakap dalam strategi peperangan atau pertempuran saja. Tetapi seorang pemimpin atau presiden bisa dikatakan hebat adalah orang yang benar-benar mencintai negaranya maupun rakyatnya. Bahkan saking cintanya, dia akan mengesampingkan segala ambisi dan keinginan pribadinya, kepentingan kroninya maupun partai politik yang diwakilinya untuk mencurahkan pikiran serta tindakannya untuk memajukan bangsanya maupun rakyatnya. Karena presiden atau pemimpin yang hebat mencintai rakyatnya, dia akan selalu membela siapa saja yang tertindas dan akan menerapkan hukum dan keadilan yang tegas dan tanpa pandang bulu demi kesejahteaan masyarakat luas. Dia peduli dan selalu melindungi kaum minoritas yang ada di negaranya. Dia juga memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dengan mempertahankan harga diri bangsa ini dari segala bentuk intimidasi maupun serangan secara tidak langsung dari negara lain.

Ada beberapa contoh pemimpin hebat dunia yang bisa kita teladani kinerjanya, pencapaiannya maupun apa yang telah dilakukannya terhadap bangsanya. Contoh pertama adalah presiden Venezuela Hugo Chavez (alm.). Walaupun dia dikenal sebagai sosok diktator, tetapi dia peduli dengan rakyatnya terutama dengan melakukan nasionalisasi beberapa perusahaan dan industri penting, mengalokasikan anggaran pemerintah untuk sektor kesehatan dan pendidikan masyarakat serta mengurangi jumlah warganya yang kelaparan melalui keuntungan dari perdagangan minyak bumi yang kebetulan adalah sumber daya alam terbanyak yang dimiliki oleh Venezuela. Berikutnya adalah salah satu pemimpin dunia juga yang patut diteladani adalah presiden Uruguay yaitu Jose Mujica. Mungkin kalian tidak terlalu banyak sering mendengar akan kiprah dan kehidupan dari pemilik nama lengkap Jose Alberto Mujica Cordano. Fakta yang unik tetapi nyata dari pemimpin Uruguay ini adalah beliau merupakan presiden yang paling miskin di dunia. Masa sih seorang pemimpin negara hidup dalam kemiskinan? Biasanya seperti yang kita kenal pada umumnya jika seorang pemimpin negara tinggal dalam istana, memiliki mobil mewah, rumah mewah dan harta yang banyak jumlahnya. Tetapi Jose Mujica adalah sebaliknya. Beliau menolak untuk menggunakan segala fasilitas negara termasuk staf ahli dan memilih untuk tinggal di rumah sederhana bersama istrinya serta memakai mobil VW sebagai satu-satunya transportasi yang dia gunakan baik dalam bekerja maupun untuk kehidupan sehari-harinya. Fakta menarik lainnya dari pemimpin Uruguay ini adalah Jose selalu menyisihkan 90% dari gaji bulanannya yang sebesar USD12,000 untuk disumbangkan pada beberapa yayasan amal yang menangani masyarakat miskin dan usaha-usaha kecil serta menengah. Untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, beliau mengandalkan dari hasil bertaninya dan budidaya tanaman bunga Chrysanthemum yang kemudia dijual ke pasar. Fakta lainnya adalah Jose Mujica adalah seseorang yang atheis. Melihat kehidupan Jose ini, saya hanya bisa berkata bahwa masyarakat Uruguay sangat beruntung punya presiden atau pemimpin seperti Jose Mujica yang rendah hati dan selalu memikirkan rakyatnya.

Ada salah satu pemimpin yang pernah ada di dunia ini yang bagi saya merupakan sosok yang sangat patut diteladani dan Dia juga secara tidak langsung mewariskan bagaimana caranya menjadi seorang pemimpin yang benar-benar peduli terhadap masyarakat luas baik melalui ajarannya maupun perbuatannya. Sosok yang saya maksud adalah Yesus Kristus. Dia meninggalkan tahtaNya di surga dan rela datang ke dunia bukan sebagai seorang raja, bukan dengan kesaktianNya bahkan bukan disertai dengan bala tentara sorgawi serta kereta perang, melainkan hanyalah sebagai hamba yang bersahaja. Dia berasal dari keluarga sederhana, di mana ayahnya, Yusuf, bekerja sebagai tukang kayu dan ibunya, Maria, sebagai sosok ibu yang sederhana. Ketika dia lahir pun, bukan di tempat yang mewah seperti istana, melainkan di kandang hewan, bahkan di tempat makan domba. Tujuan Yesus datang ke dunia sederhana kok, karena kasihNya yang tidak terhingga kepada manusia tanpa melihat latar belakang apapun dan ingin menyelamatkan seluruh umat manusia dari jerat dosa yang berujung pada kematian yang kekal dengan mengorbankan diriNya untuk mati di atas kayu salib. Ketika masih ada di dunia, Yesus selalu peduli dan mau berkunjung serta makan bersama kaum atau orang-orang minoritas dan terpinggirkan seperti para pemungut cukai, penderita kusta, pelacur dan orang-orang berdosa lainnya. Waktu itu orang-orang seperti itu dianggap sebagai kasta yang paling rendah dan paling hina. Tidak hanya itu saja, di sela-sela pekerjaanNya, Yesus selalu menyempatkan diriNya untuk menyembuhkan dan memulihkan orang-orang sakit, cacat maupun yang kerasukan setan atau roh jahat. Bahkan Dia pernah memberi makan berupa roti dan ikan kepada 5000 orang yang mengikutiNya yang kelaparan. Puncaknya adalah ketika Dia memenuhi janjiNya yaitu untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dari dosa dengan mengorbankan diriNya, bahkan disiksa secara keji dan mati di atas kayu salib serta bangkit dari kubur pada hari ketiga. Bisa saja Yesus memilih untuk menghindari siksaan dan kematian yang menimpa diriNya dengan memusnahkan tentara Romawi maupun para kaum Farisi yang ingin membunuhNya dengan kekuatanNYA, tetapi karena kasihNya yang tidak terhingga terhadap manusia, Dia tidak melakukanNya. Rasanya tidak ada seorang pemimpin di dunia ini yang benar-benar memiliki hati yang peduli seperti Yesus ini, bahkan sampai rela mengorbankan dan memberikan nyawaNya untuk banyak orang.

Melihat contoh serta teladan dari beberapa sosok pemimpin dunia yang telah dibahas di atas, saya hanya bisa berkata jika andaikan sosok presiden atau pemimpin bangsa ini punya hati yang serupa, maka dia akan selalu menjauhi segala bentuk suap dan korupsi yang dapat merugikan negara dan masyarakat. Dia juga akan menerapkan aturan dan hukum yang adil dan merata bagi semua kalangan baik itu si kaya maupun si miskin. Dia berbuat lebih banyak untuk memajukan rakyatnya dan membuat mereka sejahtera serta hidup secara layak ketimbang memikirkan kepentingan pribadinya. Dia rela berkorban baik itu secara materi bahkan jiwanya untuk rakyat dan bangsa ini. Dia juga memiliki kehidupan pribadinya yang bisa menjadi contoh serta panutan bagi masyarakat. Andaikan Indonesia punya presiden atau pemimpin yang hebat seperti ini, bangsa ini pasti bangkit dan keluar dari krisis yang berkepanjangan serta bangsa ini bisa maju dan sejahtera yang pada akhirnya dapat berbicara banyak di kancah internasional. Andaikan…

Walaupun saya lahir dan tinggal di Jakarta hingga saat ini, kota Bandung telah lama menjadi bagian dari perjalanan hidup saya serta banyak sekali kesan yang didapat serta peristiwa yang saya alami yang tidak bisa dilupakan atau dipisahkan begitu saja. Pertama kali ke Bandung ketika saya duduk di bangku SD (Mungkin waktu itu pas saya kelas 3 SD) dan waktu itu dalam rangka liburan bersama keluarga saya. Di tambah saya punya sahabat saya yang kebetulan tinggal di sana. Nama lengkapnya adalah Yoshua Situmorang, tetapi biasa cukup dipanggil Cua aja. Orang tua saya dan orang tuanya Cua memang berteman akrab juga karena kebetulan sama-sama aktif dalam salah satu organisasi pelayanan pemuridan yang terkenal bernama The Navigators. Saya mulai sering main ke Bandung ketika saya mulai menginjak bangku SMP dan selalu setiap kali ke sana, saya pasti menginap di rumahnya Cua. Sejak saat itu saya sering kali ke Bandung dan biasanya pas liburan panjang sekolah tiba yang jatuh pada bulan Juni dan Juli.

Bahkan ketika saya sempat mengambil pendidikan SMU di New Zealand selama 4 tahun dari tahun 1996 hingga 1999, saya pasti selalu menyempatkan diri untuk mampir ke Bandung selama saya lagi liburan di Indonesia. Rasa kangen dan rindu saya akan kota Bandung beserta para teman-teman saya yang di situ mengalahkan rasa rindu saya pada orang tua saya. Ketika liburan ke Bandung, saya selalu nongkrong bareng dengan teman-temannya Cua yang kebetulan anak-anak SMU 3. Sering sekali waktu itu saya nongkrong bareng mereka di tempat kos mereka yang tidak jauh dari sekolah tersebut, bahkan kalo pas mereka bolos atau cabut dari sekolah, pastinya kami berkumpul di salah satu tempat kos mereka. Terkadang kami juga jalan-jalan bareng ke Bandung Indah Plaza atau disingkat BIP yang waktu itu hanyalah pusat perbelanjaan terbesar satu-satunya di Bandung pada waktu itu. Nongkrong bareng Cua dan para anak SMU 3 merupakan kenangan yang tidak bisa saya lupakan begitu saja karena rasanya waktu itu suasananya benar-benar menyenangkan seakan tidak ada masalah kehidupan sama sekali. Nongkrong dan ngumpul di tempat kos, main kartu, main gitar dan mengulik lagu, main biliard, jalan-jalan dan nonton bareng di BIP bahkan sampai sering begadang hingga pagi hari benar-benar sangat menyenangkan sekali. Apalagi pas era musik alternative, grunge dan punk lagi berjaya pada tahun 1995 hingga 1998, waktu di Bandung banyak sekali band-band bergenre musik tersebut manggung di berbagai event entah itu event berskala besar bahkan sampai event pensi SMU. Bahkan menurut saya, pada rentang tahun tersebut itulah masa kejayaan Bandung yang sebenarnya. Saya ingat banyak sekali band-band asal Bandung yang berjaya pada waktu itu seperti PAS Band, Puppen, Pure Saturday, /Rif, Koil, Cherry Bombshell, Kubik dan yang lainnya. Serta saya juga menyempatkan diri untuk belanja merchandise band lokal di salah satu distro yang kalo tidak salah juga merupakan basecamp-nya PAS Band (Saya lupa lokasi persisnya). Saya juga waktu itu terkesan dengan salah satu band yang pas manggung di acara pensi SMU 5 membawakan lagu-lagunya Rancid dengan rapi dan fasih. Pokoknya waktu itu kondisi musik di Bandung lagi keren-kerennya deh serta puncaknya ketika ada acara musik di BIP yang menampilkan band-band beraliran alternative dan punk yang menurut saya, penampilan dan aksi panggung mereka serta lagu-lagu yang dibawakan cukup luar biasa walaupun mereka itu band-band yang belum terkenal. Dalam acara tersebut, ada salah satu band yang mulai dikenal publik yaitu /Rif yang waktu itu baru saja merilis album pertamanya dengan salah satu lagu mereka yang jadi hits sepanjang masa yaitu ‘Radja’. /Rif membawakan lagu-lagu mereka sendiri maupun meng-cover lagu band luar dengan rapi dan penampilan mereka mampu menghipnotis para penonton. Selain itu, kami juga sering mampir ke Fame Station untuk melihat beberapa band cafe yang sering membawakan lagu-lagu band ternama. Ketika saya ke Bandung, pasti selalu saya tidak pernah lupa untuk mampir ke toko kaset Aquarius untuk mencari kaset-kaset artis lokal maupun luar negeri yang bagus.

Selain atmosfir musik beserta band-band lokalnya yang sangat berkesan, Bandung waktu itu memiliki iklim yang dingin dan sejuk sehingga saya dan Cua (Terkadang dengan teman-teman anak SMU 3 maupun The Navigators) sering sekali berburu berbagai macam kuliner di pinggir jalan mulai dari perempatan Dago atas hingga warung pisang dan roti bakar dekat sekolah katolik Aloysius (Oleh karena itu warung tersebut dinamakan Warung Roti Bakar Aloy). Cukup sering waktu itu kami nongkrong di warung Aloy hingga larut malam dan biasanya kami membeli roti atau pisang bakar coklat serta selalu ditemani dengan susu hangat dan sebatang rokok Dji Sam Soe (Maklum, waktu itu saya masih merokok). Atau kami juga sering membeli ayam goreng tepung bumbu Cola yang sering dijual di sekitar daerah Dago. Ayamnya digoreng dengan adonan tepung seperti Fried Chicken biasanya tapi yang ini diberi campuran Coca-Cola. Terkadang kami lanjut untuk berkeliling di daerah sekitar ITB pada tengah malam dengan mobilnya Cua. Benar-benar kenikmatan paripurna yang amat sangat dengan iklim dan suasana Bandung waktu itu, karena dulu Bandung tidak terlalu dipenuhi dengan berbagai mall, pusat perbelanjaan serta factory outlet. Bahkan pernah setelah begadang di salah satu tempat kos teman saya, kami mampir ke SMU 3 sekitar jam 6 pagi untuk lanjutkan nongkrong di salah satu warung rokok depan sekolah tersebut sembari menyantap gorengan yang dijajakan warung tersebut. Kalo mau mandi, saya ingat sekali airnya waktu itu dingin sekali hingga terkadang saya hanya cuci muka saja. Apalagi kalo saya bertandang ke salah satu teman saya yang sesama The Navigators yang tinggal di daerah Ciburial, Dago Pakar, suasananya waktu itu luar biasa hening, dingin dan sejuk sekali serta bisa melihat pemandangan kota Bandung secara keseluruhan dari atas.

Ketika saya ke Bandung pada waktu itu, sering sekali saya mengulik lagu bareng Cua dan teman-temannya baik itu di tempat kos maupun menyewa studio. Saya ingat sekali ketika mengulik lagunya Helmet, Smashing Pumpkins dan beberapa band bergenre alternative lainnya bersama salah satu temannya Cua yang bernama Eki. Atau mengulik lagu-lagunya Metallica maupun Extreme bersama Adi, yang juga merupakan teman SMU-nya Cua. Kalo sudah bertemu Adi, pasti selalu membahas soal musik dan gitar hingga mulut berbusa. Jika saya mampir ke BIP, saya pasti mencari buku-buku tablatur gitar (Partitur not balok yang diterjemahkan ke dalam bentuk diagram fret gitar dan posisi senarnya) yang waktu itu sering dijajakan di depan gedung BIP dan waktu itu saya membeli buku tablatur gitarnya Extreme, Metallica dan Yngwie Malmsteen.

Seiring berjalan waktu, kota Bandung mulai mengalami perubahan ketika mulai memasuki tahun 2004 ke atas di mana pembangunan serta perekonomian di sana menggeliat serta berkembang dengan pesatnya. Pada masa tersebut banyak sekali factory outlet mulai menjamur hampir di beberapa daerah di Bandung serta beberapa Mall dan pusat perbelanjaan baru mulai berdiri di sana. Sarana maupun prasarana umum seperti jembatan layang Pasoepati serta jalan tol Cipularang yang langsung menghubungkan Jakarta dengan Bandung memberikan dampak yang luar biasa terhadap kota Bandung. Memang, di satu sisi kota Bandung semakin berkembang dan lebih modern. Akan tetapi, di sisi lainnya saya merasa ada sesuatu yang hilang dari kota ini. Seriring dengan menjamurnya pusat perbelanjaan seperti mall, factory outlet apalagi akses untuk pulang pergi Jakarta – Bandung semakin dipermudah dengan adanya jalan tol Cipularang, banyak sekali warga Jakarta yang lalu lalang memasuki kota Bandung, terutama kalo akhir pekan atau tanggal merah tiba, jalan raya di berbagai tempat di Bandung penuh sesak dengan mobil-mobil ber-plat B alias berasal dari Jakarta sehingga lalu lintas di sana sering macet. Saking banyaknya mobil di sana akhirnya mengakibatkan suhu udara di Bandung tidak sedingin dan sejuk seperti dulu lagi. Terakhir kali saya ke Bandung yaitu pada bulan Februari 2012 di mana band saya, Attilion, manggung di acara Car Free Day pada hari Minggu di pinggiran Dago. Sehari sebelumnya kami menginap di markas Rumah Seni Harry Roesli yang berlokasi tidak jauh dari Gedung Sate dan ketika kami menuju ke situ, kami terjebak dalam kemacetan yang waktu itu nyaris merata dan besok paginya ketika kami menuju ke tempat acara, kami kembali terjebak dalam kemacetan. Pada waktu band saya main, penonton cukup antusias dan akan tetapi secara keseluruhan, saya tidak sama sekali menikmati suasana kota Bandung yang penuh dengan kemacetan. Oleh karena itu, kota Bandung saat ini buat saya pribadi merupakan bukan tempat yang tepat untuk liburan maupun mencari inspirasi.

Saya hanya bisa berkata kalo andaikan kota Bandung kembali seperti dulu lagi pada era 90-an, di mana suhu udaranya yang dahulu terkenal dingin dan sejuk, di mana Mall serta pusat perbelanjaan sejenis dan factory outlet tidak terlalu banyak sehingga ada ruang gerak lebih banyak serta banyaknya area hijau seperti taman kota. Andaikan kondisi musik lokal di sana menggeliat kembali seperti dahulu, pastinya kota Bandung akan jauh lebih menarik ketimbang kondisi saat ini. Yang jelas, jika andaikan kota Bandung tidak berubah secara drastis seperti sekarang ini, pastinya saya akan semakin sering ke sana, entah itu sekedar liburan, manggung, mencari inspirasi bahkan saya berpikir untuk tinggal dan hidup di sana. Bandung di era 90-an memang benar-benar kenikmatan paripurna yang sesungguhnya yang tidak akan pernah bisa terpisahkan dalam kisah perjalanan hidup saya bahkan akan selalu teringat untuk selama-lamanya.

Judul di atas rasanya bukan jeritan saya pribadi saja, tetapi pastinya mewakili kalian semuanya yang tinggal atau hidup di kota Jakarta, terutama untuk saat ini. Apalagi ketika musim hujan tiba yang biasanya berlangsung mulai bulan November hingga Maret, hampir semua tempat di Jakarta pasti tergenang air akibat banjir. Kebetulan tulisan ini dibuat pas bencana banjir yang terjadi lagi di Jakarta pada hari Rabu, tanggal 29 Januari 2014 yang di mana kali ini hampir semua tempat kena secara merata. Bahkan daerah sekitar Rumah Sakit Fatmawati yang sebelumnya tidak pernah kena banjir ternyata diberitakan terkena genangan air setinggi 50 cm, berdasarkan berita dari salah satu stasiun TV yang saya simak. Akibatnya jadwal saya untuk mengajar kelas ekstrakurikuler gitar di salah satu sekolah internasional ternama di daerah Jakarta Selatan kembali dibatalkan untuk kedua kalinya karena bencana banjir yang terjadi di Jakarta. Ini sudah kedua kalinya saya batal mengajar karena sebelumnya pada tanggal 21 Januari 2014 kelas yang sama juga dibatalkan karena alasan serupa. Banjir kali ini terjadi karena hujan dengan intensitas deras terjadi sejak tengah malam secara terus menerus hingga pagi hari.

Bencana banjir memang selalu membawa kerugian bagi siapa saja tanpa terkecuali. Yah rugi waktu serta secara finansial terutama, bahkan yang lebih parah lagi bisa merenggut korban jiwa akibat hanyut terbawa arus banjir atau tersengat arus listrik ketika banjir terjadi. Kerugian secara waktu sangat terasa kali dengan terjadinya banjir, dengan tergenangnya jalan raya sehingga kemacetan terjadi di mana-mana sehingga kegiatan perkantoran dan perdagangan terganggu. Kendaraan mogok, terbatasnya akses akibat banjir sehingga banyak yang telat untuk tiba di tempat kerja atau bahkan banyak pembatalan kegiatan atau pekerjaan seperti yang baru saja saya alami hari ini. Tentunya kerugian secara waktu berimbas pada kerugian secara finansial, seperti dengan batalnya transaksi perdagangan atau kegiatan perkantoran yang mengakibatkan terhambatnya pemasukan atau bahkan tidak mendapatkannya sama sekali. Seperti yang telah saya bahas di atas sebelumnya, banjir dapat menyebabkan nyawa orang melayang, seperti ada saja yang hanyut terbawa arus ketika banjir terjadi atau bahkan ada kejadian adanya korban jiwa akibat tersengat arus listrik karena air memang salah satu komponen penghantar arus listrik yang baik, sehingga sumber listrik letaknya harus jauh dari jangkauan air. Sungguh tragis sekali mendengar adanya korban jiwa yang berjatuhan akibat bencana banjir. Yah rasanya saya juga lelah jika mendengar bencana banjir terus menerus terjadi di kota Jakarta yang tercinta ini. Saya juga lelah jika kegiatan maupun pekerjaan saya juga ikut terganggu akibat bencana ini, bahkan dapat mempengaruhi pemasukan saya. Pastinya kalian merasakan akan hal ini bukan?

Mmmm, andaikan…andaikan kota saya yang tercinta ini, Jakarta, benar-benar bebas dari bencana banjir, pastinya segala kegiatan dan pekerjaan saya tidak akan terganggu sama sekali. Saya bisa tiba di tempat kerja tepat pada waktunya tanpa terkena macet parah karena genangan air akibat banjir. Nah, kalo udah seperti itu kan pastinya pemasukan saya juga tidak terganggu. Jika Jakarta bebas dari bencana banjir, kegiatan maupun transaksi perdagangan dapat berjalan lancar sehingga perekonomian masyarakat terus menggeliat yang pada akhirnya membawa kepada tingkat kesejahteraan mereka yang lebih baik lagi. Kegiatan perkantoran juga dapat berjalan dengan normal. Karyawan datang ke tempat kerja maupun pertemuan dapat dilakukan tepat waktu tanpa adanya penjadwalan ulang atau penundaan akibat adanya bencana banjir. Selain itu, kendaraan pribadi maupun angkutan umum tidak mogok di jalan akibat kemasukan air sehingga perjalanan berangkat ke tempat tujuan maupun pulang ke rumah dalam kondisi aman dan lancar selalu. Andaikata Jakarta bebas dari banjir, pastinya tidak akan ada lagi korban jiwa akibat hanyut terbawa arus air yang deras karena banjir, maupun yang tewas karena tersengat arus listrik karena kondisi rumah yang tergenang atau kemasukan genangan banjir. Sedih sekali rasanya jika mendengar adanya korban yang berjatuhan akibat bencana banjir ini, bahkan lebih menyedihkan sekali jika ada anggota keluarga atau kerabat kita yang tewas akibat bencana ini.

Andaikan Jakarta bebas dari banjir ini perlu didukung dengan beberapa komponen penting lainnya. Seperti, andaikan beberapa daerah resapan air penting seperti sungai, kali, waduk, rawa dan situ yang ada di Jakarta dikembalikan seperti semula, tentunya ketika hujan tiba, maka tempat tersebut mampu menampung debit air yang pada akhirnya mencegah bencana banjir terjadi. Andaikan pemerintah kota benar-benar tegas dengan membuat kebijakan yang mengatur tentang pembangunan gedung bertingkat, pemukiman dan sejenisnya, maka beberapa daerah resapan air penting di Jakarta tidak lenyap begitu saja akibat pembangunan gedung maupun pemukiman yang di luar batas. Andaikan banyak hutan berskala kecil dibangun di tengah kota maupun ditaruh pada beberapa tempat strategis, maka dapat mengurangi adanya banjir mengingat fungsi dari keberadaan pohon sangat penting sekali yaitu untuk menyerap air dan menahan arus air. Andaikan saluran pembuangan dan got tetap dalam kondisi layak maupun terawat dengan baik, maka arus air dapat mengalir dengan lancar tanpa menggenangi jalan bahkan pemukiman ketika hujan terjadi. Sebenarnya yang sangat diharapkan saat ini adalah andaikan masyarakat benar-benar sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan, maka sungai maupun kali tidak penuh dengan timbunan sampah organik maupun non-organik serta saluran pembuangan atau got tidak penuh dengan tumpukan kotoran dan sampah sehingga bencana banjir dapat terhindarkan. Serta satu lagi hal yang juga tidak kalah pentingnya adalah andaikan masyarakat sadar untuk tidak membangun tempat tinggal tepat di bantaran atau pinggir sungai atau kali, maka kondisi sungai maupun kali tetap terjaga secara utuh serta tidak mengalami pendangkalan yang pada akhirnya mampu menampung debit air hujan.

Andaikan kita sama-sama menyadari akan dampak buruk yang terjadi dari bencana banjir dengan bertindak tanpa harus saling menyalahkan satu sama lainnya, maka Jakarta akan menjadi kota yang nyaman dan tentram untuk dihuni serta pada akhirnya kesejahteraan maupun taraf hidup kita akan jauh lebih baik lagi. Jadi Jakarta cukup hari ini saja untuk mengalami bencana banjir dan tidak untuk seterusnya di kemudian hari.

Kalo diperhatikan dengan seksama, akhir-akhir ini orang Indonesia punya kecenderungan untuk gemar mengkritik. Rasanya hampir semua kalangan gemar melakukannya, entah itu para politisi, pejabat, selebritis dan yang lainnya. Kritik atau menyampaikan suatu kritikan adalah hal yang baik jika itu disampaikan dengan porsi yang pas serta waktu yang tepat. Kritik menjadi berguna ketika ditujukan untuk mengingatkan akan adanya sesuatu yang salah atau menyimpang dari aturan, sistem atau koridor yang telah ditetapkan. Kritik bahkan menjadi efektif dan tepat ketika disampaikan untuk mengkoreksi perbuatan yang salah dari seseorang, bukan diri seseorang tersebut. Tetapi seringkali suatu kritik disampaikan secara berlebihan bahkan keluar dari tujuan yang dimaksud.

Ada beberapa indikasi yang terlihat jika kritik disampaikan tidak dengan semestinya, yaitu:

  • Kritik disampaikan baik langsung maupun secara tidak langsung menyerang diri atau pribadi seseorang dan bukan menegur atau mengkoreksi kesalahan seseorang tersebut.
  • Penyampaian kritik tanpa disertai solusi.
  • Menyampaikan kritik kepada seseorang di depan umum.
  • Memberikan kritik secara emosional

Banyak dampak negatif yang terjadi jika kritik disampaikan secara berlebihan atau di luar batas. Bukannya membangun atau memotivasi, malahan yang ada orang yang mendapat kritikan dengan cara yang salah semakin menurun semangat serta motivasinya, bahkan ujung-ujungnya bisa menyakiti perasaan seseorang yang pada akibatnya orang tersebut menjadi mudah tersinggung, marah, benci dan dendam. Dampak luasnya bisa merusak hubungan persahabatan dan tali silahturahmi entah itu dengan sesama anggota keluarga, teman, rekan kerja serta dengan siapa saja. Yang ada bisa membangkitkan perselisihan, permusuhan serta pertikaian dan kalo dibiarkan begitu saja bisa menjurus ke perbuatan kriminal seperti pembunuhan. Itulah dampak atau akibat yang terjadi jika kita tidak bisa memberikan suatu kritikan dalam porsi yang pas serta waktu yang tepat.

Mengapa gue menulis tiga judul secara bersamaan di atas yaitu ‘Kritik, Solusi dan Apresiasi’? Kalo dilihat lebih seksama lagi, sebenarnya ketiga judul tersebut saling berkaitan dan harus dilakukan secara bersamaan. Maksudnya begini, seperti yang telah gue bahas di atas, jika menyampaikan kritik tidak secara tepat, maka yang ada kita menyakiti perasaannya yang pada akibatnya orang tersebut menjadi sakit hati. Bukan itu saja, orang tersebut menjadi semakin terpojok dan mudah defensif. Sebaiknya ketika memberikan suatu kritikan, jangan pernah lupa untuk memberikan solusi kepada orang tersebut supaya dia menyadari akan kesalahannya serta memperbaikinya supaya kesalahan yang sama dapat diminimalisir atau tidak terulangi kembali di kemudian hari. Perlu diingat kalo kita gemar hanya menyampaikan kritik saja tanpa adanya solusi atau jalan keluar, maka sama saja kita dicap sebagai orang yang suka menghakimi orang lain. Gue jadi ingat ketika sedang menyusun skripsi, gue memilih topik yaitu pengendalian intern atas persediaan dan pergudangan pada suatu perusahaan minuman ternama, di mana gue harus menganalisa setiap kebijakan dan aturan perusahaan dalam kegiatan persediaan dan pergudangan serta melihat apakah ada yang sesuai atau tidak dan setiap analisa yang gue buat harus disertakan solusi dengan tujuan utamanya supaya kegiatan perusahaan telah sesuai dengan aturan dan sistem yang ditetapkan. Nah, hal yang sama juga berlaku ketika kita menyampaikan suatu kritikan kepada seseorang, sertakanlah juga solusi supaya orang tersebut dapat keluar dari masalah yang dihadapi.

Kritik dan solusi maksudnya baik, tetapi tidak cukup jika melupakan satu elemen yang juga gak kalah penting, yaitu apresiasi. Perlu diingat bahwa semua manusia yang ada di dunia ini memiliki kebutuhan untuk dihargai dan dipuji. Rasanya akhir-akhir ini kebiasaan memberikan apresiasi di negeri ini semakin luntur dan kebanyakan orang lebih punya kecenderungan untuk memberikan kritikan. Apresiasi itu sangat perlu sekali karena seseorang tidak selamanya atau seterusnya berbuat salah atau ceroboh dalam hal apapun dan setiap orang pasti juga memberikan kontribusi yang positif yang berguna baik bagi pribadinya maupun bagi orang lain. Dengan kata lain, seseorang yang telah melakukan prestasi dalam kegiatannya maupun dalam pekerjaannya layak diberikan apresiasi. Apresiasi diberikan dalam bentuk apa saja, misalnya dalam bentuk pujian secara lisan maupun tertulis, penghargaan, kenaikan gaji atau pangkat atau dalam bentuk lainnya. Ada dua kejadian atau momen yang gak bisa gue lupakan soal apresiasi yang gue alami dalam hidup gue. Yang pertama adalah ketika gue mengambil jenjang pendidikan SMU di New Zealand, di mana pas gue menginjak kelas 11, gak disangka gue mendapatkan ‘Merit Award’ untuk kedua mata pelajaran yaitu Matematika dan ESOL (English For Second Language Overseas Student) atau Bahasa Inggris untuk pelajar luar negeri karena nilai kedua pelajaran yang gue ambil tersebut dianggap memuaskan. Kejadian berikutnya adalah ketika pendeta gereja gue sedang menyampaikan khotbah tahun lalu tepat dua hari sebelum Natal, di tengah khotbahnya tiba-tiba beliau membahas soal pergumulan gue untuk masuk terlibat dalam pelayanan tim musik gereja selama setahun dan beliau juga memuji kontribusi gue sebagai pemain gitar di gereja selama 4 tahun lamanya serta dia menganggap gue adalah gitaris terbaik di gereja itu. Kaget rasanya gue mendengar sanjungan dari beliau ketika gue sedang serius menyimak khotbahnya. Di tempat yang sama, pada akhir bulan November 2014, gereja gue mengadakan acara gala dinner atau makan malam yang dinamakan ‘Appreciation Night’ yang ditujukan untuk memberikan penghargaan dan apresiasi terhadap para pekerja gereja gue. Rasanya seumur hidup baru gue alami jika ada gereja yang memberikan apresiasi terhadap para pekerjanya yang terlibat dalam kelangsungan hidup suatu gereja. Kedua contoh kejadian yang gue alami di atas bisa menunjukkan betapa pentingnya apresiasi bisa membangkitkan serta menambah semangat seseorang bahkan memotivasi orang tersebut untuk melakukan yang terbaik dan pada akhirnya kinerjanya bisa maksimal. Yang paling penting adalah dengan apresiasi, seseorang bisa menjalani hidupnya dengan semangat serta dengan rasa optimis dan keyakinan yang tinggi walaupun masalah selalu datang silih berganti seiring dengan berjalannya waktu. Perlu diingat juga nih kalo apresiasi diberikan secara berlebihan juga maka dampaknya kurang baik juga bagi seseorang yaitu menjadi gila hormat serta membuat orang mudah menjadi besar kepala atau dengan kata lain adalah sombong.

Pada akhirnya gue hanya bisa mengatakan bahwa kritik, solusi dan apresiasi harus disampaikan atau diberikan secara bersamaan. Ingat bahwa manusia adalah mahkluk yang tidak sempurna, hanya Tuhan Sang Pencipta saja yang sempurna. Jika rakyat Indonesia menyadari akan hal ini, negara ini pasti akan maju bertumbuh dengan pesat. Kemajuan suatu negara bukan hanya ditentukan dari tingkat atau kemampuan ekonomi dan teknologinya saja, melainkan dari akhlak dan perbuatan pemerintah maupun rakyatnya juga.

Hoobastank - Fight Or Flight

Oleh Bowo Christantyo

Musik rock pada umumnya selalu identik dengan keras, cadas, lugas dan tanpa kompromi. Tetapi HOOBASTANK dalam album keenamnya yang berjudul ‘Fight Or Flight’ seakan menawarkan sisi lembut dari musik rock. Ini bisa dilihat dengan penggunaan sound heavy overdrive atau crunch pada gitar serta elemen gitar akustik yang dimainkan oleh Dan Estrin pada beberapa lagunya dan karakter vokal Doug Robb yang tidak melulu mengandalkan teriakan khas musik rock.

Lagu ‘This Is Gonna Hurt’ sebagai pilihan yang tepat untuk lagu pembuka dari album ini karena hentakan musiknya yang cukup kuat. Berikutnya tensi diturunkan sedikit ketika memasuki lagu kedua yang berjudul ‘You Before Me’ di mana intro dari lagu tersebut sangat mengalun dengan iringan petikan gitar. Bukan hanya pada lagu kedua saja, namun petikan gitar dengan sound clean serta ditambah sedikit sound delay serta elemen gitar akustik terdengar jelas pada lagu ‘Can You Save Me’. Sound delay pada gitar juga terdengar jelas pada lagu ‘No Destination (Fight Or Flight)’. Jangan lupa untuk mendengarkan lagu yang berjudul ‘Slow Down’ di mana karakter vokalnya Doug cukup lembut dan syahdu. Serta lagu ‘Incomplete’ yang juga terkesan jauh dari musik rock.

Secara garis besar, album ‘Fight Or Flight’ dari HOOBASTANK ini terkesan sedikit power pop walaupun unsur rock-nya masih terasa. Melalui album ini, mereka mencoba untuk merambah ke berbagai kalangan pendengar yang lebih luas dengan memasukkan berbagai unsur dalam musiknya selain elemen rock. Bagi yang ingin mendengar musik rock yang tidak terlalu hingar bingar serta masih bisa dinikmati, album ini merupakan pilihan tepat bagi anda yang menginginkannya.

Sentuhan Mars

Bruno Mars - Doo Woops & Hooligans

Oleh Bowo Christantyo

Bagaimana caranya suatu planet lain bisa memberikan sentuhan terhadap musik di bumi? Tentu saja bukan planet apapun yang saya maksud di sini, namun melainkan seorang penyanyi/musisi pendatang baru yang di mana melalui album perdananya yang berjudul ‘Doo-Woops & Hooligans’ dianggap banyak kalangan sebagai album yang memberikan angin segar bahkan terobosan terkini bagi dunia musik pop terutama. Ya, orang yang saya maksud adalah BRUNO MARS. Karakter vokalnya sampai 3 oktaf yang merupakan ciri khasnya memberi kekuatan sendiri pada setiap lagu yang ada dalam album ‘Doo-Woops & Hooligans’ yang dirilis pada tahun 2010 dan jika mendengarkan vokalnya dengan seksama, anda pasti akan teringat dengan artis pop legendaris bernama Michael Jackson yang kebetulan adalah salah satu inspiratornya BRUNO MARS.

Secara garis besar, musik yang diusung BRUNO MARS adalah power pop dengan sedikit elemen reggae, fusion, jazz dan rock yang diramu sedemkikian rupa hingga lagu-lagunya masih bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Lagunya yang berjudul ‘Our First Time’ terasa sekali unsur reggae dan fusion-nya walaupun masih dalam kadar yang ringan. Serta jangan lupa untuk menyimak beberapa lagu hits-nya yang berjudul ‘Grenade’, ‘Just The Way You Are’ dan ‘The Lazy Song’. Sentuhan rock era 50-an juga terasa sekali dalam lagunya yang berjudul ‘Runaway Baby’ yang mengusik adrenalin anda untuk bergoyang menikmati beat dari lagu ini. Untuk lagunya yang berjudul ‘The Lazy Song’, saya teringat akan salah satu lagunya Jason Mraz yang berjudul ‘I’m Yours’ karena baik progresi chord maupun ketukan yang digunakan cukup mirip. Ada salah satu lagunya yang berjudul ‘Marry You’ menurut saya cocok bagi yang mau memasuki jenjang pernikahan maupun digunakan sebagai lagu pengiring untuk upacara pernikahan.

Bagi yang ingin mendengarkan lagu-lagu bernuansa pop dengan sentuhan dan rasa yang berbeda, album ‘Doo-Woops & Hooligans’ dari BRUNO MARS merupakan pilihan yang tepat bagi anda yang menginginkannya.

Miles Davis - Bitches Brew

Oleh Bowo Christantyo

Era akhir 60-an dan memasuki awal 70-an adalah era di mana letupan pemberontakan melalui musik terutama rock n’ roll, blues dan psychedelic mewabah hampir di semua tempat di seluruh dunia seiring dengan bergejolaknya suhu politik di beberapa negara waktu itu. Gebrakan awal pemberontakan di musik dimulai dari Elvis Presley, lalu berlanjut dengan The Beatles yang mampu menghipnotis semua orang di seluruh dunia, kemudian muncul The Rolling Stones, Jimi Hendrix, Janis Joplin, The Doors, Pink Floyd, dan Led Zeppelin. Tetapi di waktu yang sama, tepatnya pada tahun 1970, ada seorang musisi jazz legendaris yang merilis sebuah album bisa dikatakan sangat fenomenal di jamannya karena bukan hanya mempresentasikan suatu terobosan baru saja, namun album tersebut dianggap berani menembus bahkan melawan aturan-aturan baku yang selama ini berlaku dalam musik terutama dalam musik jazz. Album jazz yang saya maksud dan akan saya kupas di sini adalah albumnya MILES DAVIS yang berjudul ‘Bitches Brew’. Di album inilah Miles merupakan terobosan ganda dan mengapa saya menyebutnya seperti itu? Karena dalam album inilah diluncurkan dalam jumlah dua sekaligus yang total lagu yang ada adalah 7 lagu.

Terobosan ganda yang dilakukan Miles dalam album ini justru menunjukkan gebrakan serta inovasi dalam dunia musik yang belum pernah dilakukan oleh para musisi lainnya. Hal ini bisa dilihat dengan keengganan Miles untuk menggunakan pakem musik jazz konvensional dan lebih memakai gaya improvisasi ala musik rock yang justru menambah daya jelajah Miles dalam melakukan eksplorasi yang luas di album ini. Untuk mewujudkan apa yang diinginkan Miles, di dalam album ini banyak sekali musisi-musisi jazz ternama yang terlibat, seperti Chick Corea, Joe Zawinul, Wayne Shorter, John McLaughlin dan yang lainnya. Dengan keterlibatan beberapa musisi jazz ternama dalam album ganda MILES DAVIS inilah yang juga menambah warna dalam komposisi musik dari setiap lagu yang ada di album ini. Terobosan lainnya yang dilakukan Miles di dalam album gandanya ini adalah terutama pada bagian rhythm di mana dia menggunakan dua pemain bass (yang satu bermain bass gitar dan yang satu lagi memainkan kontra bass), dua sampai tiga pemain piano elektrik, dua sampai tiga pemain drum dan satu pemain perkusi. Inovasi dari Miles inilah yang justru bukan hanya memperkuat bagian rhythm dalam lagu saja, namum menambah variasi dan warna dalam komposisi musik itu sendiri. Tentu saja ini belum pernah sama sekali dilakukan oleh para musisi jazz kebanyakan pada waktu itu. Uniknya, ketika proses rekaman album ini berlangsung, para musisi jazz yang terlibat tidak tahu apa yang harus dimainkan dan Miles hanya memberikan sedikit instruksi saja yaitu hitungan tempo, sedkit jumlah chord yang digunakan, beberapa melodi tema dan beberapa petunjuk saja mengenai nada dan mood yang dipakai. Selain itu Miles meminta para pemain untuk memperhatikan satu sama lainnya dan permainan mereka serta melihat tanda dari Miles jika ada perubahan sewaktu-waktu selama lagu dimainkan. Hal ini bisa dilihat misalnya dalam lagu kedua yang berjudul ‘Bitches Brew’ di mana jika diperhatikan lebih seksama akan terdengar jelas suara Miles ketika memberikan instruksi kepada para pemainnya dengan menjentikkan jarinya sebagai sinyalakan tempo yang digunakan, memberikan bisikan dengan mengatakan “keep it tight” atau memberikan sinyal kepada pemainnya secara bergilir untuk melakukan bagian solo. Selain itu, jangan lupa menyimak intro awal dari lagu ‘Bitches Brew’ ini karena ini bagian yang menarik di mana sebenarnya ada sedikit miskomunikasi antara Miles dengan pemain drum ketika bagian drum telat masuk dan kesalahan ini hanya sekali saja. Perlu dicatat bahwa permainan gitar dari John McLaughlin ini memberikan warna tersendiri karena memberikan sentuhan rock yang dipadu dengan fusion karena kebetulan latar belakang musik yang diusung John McLaughlin adalah selain jazz dan blues, dia piawai memainkan musik flamenco serta musik tradisional India. Jadi semua 7 lagu yang ada di album ganda ini sangat layak untuk disimak dan didengarkan, mulai dari ‘Pharaoh’s Dance’, ‘Bitches Brew’, ‘Spanish Key’, ‘John McLaughlin’, ‘Miles Runs The Voodoo Down’, ‘Sanctuary’ hingga lagu terakhir yang berjudul ‘Feio’.

Secara tidak langsung album ganda MILES DAVIS yang berjudul ‘Bitches Brew’ melahirkan aliran baru dalam musik jazz, yaitu avant-gard jazz atau free jazz. Serta album ganda ini juga merupakan revolusi yang dilakukan Miles terutama dalam perkembangan musik modern. Album ini juga menjadi sumber inspirasi bagi para penerusnya yang akhirnya mencetak beberapa band jazz  atau beraliran progressive yang berani melakukan inovasi dan terobosan seperti Weather Report, Return To Forever, Mahavishnu Orchestra, Brand X, UK, Allan Holdsworth, Dixie Dregs bahkan sampai sampai musisi atau band jazz sekarang seperti Octurn atau band lokal seperti I Know You Well Miss Clara, Discus dan Simak Dialog. Jadi album ganda ‘Bitches Brew’ yang merupakan mahakarya dari seorang musisi jazz ternama MILES DAVIS sangat direkomendasikan bagi anda yang menginginkan kualitas tinggi serta album ini akan abadi selalu sepanjang masa walaupun Miles sudah lama tiada.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.